PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS KOTORAN KAMBING DI DESA TABA PADANG, KECAMATAN SEBERANG MUSI KABUPATEN KEPAHIANG

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS KOTORAN KAMBING DI DESA TABA PADANG, KECAMATAN

SEBERANG MUSI KABUPATEN KEPAHIANG

Sutriyono, Endang Sulistyowati, Edi Soetrisno

Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Jl. Raya Kandang Limun Bengkulu, Tlp. 073621170

Email:sutri7784@gmail.com

Ternak kambing merupakan salah satu komoditas peternakan yang diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Kepahiang, khususnya di desa Taba Padang. Ternak kambing mampu mengkonversi limbah pertanian dan rerumputan menjadi pangan hewani yang bernilai gizi tinggi. Bagi masyarakat, ternak kambing berperan sebagai sumber pangan hewani, sumber pendapatan, dan sebagai tabungan. Kelebihan ternak kambing ditinjau dari sisi ekonomi sangat menguntungkan dengan sumber makanan dari alam (sumberdaya lokal) dan tidak tergantung pada pakan pabrikan, mudal usaha lebih rendah dibanding ruminansia lainnya, lebih cepat  dipanen, dan penanganan lebih mudah dari ternak besar sapi dan kerbau. Meskipun ternak kambing potensial untuk dikembangkan, kambing menghasilkan limbah kotoran berupa feses dan urin yang dapat mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah kotoran kambing mengandung hara yang dibutuhkan tanaman, diantaranya adalah unsur Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K). Unsur hara tersebut dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif besar. Pengelolaan dan memanfaatkan limbah kotoran untuk pupuk dapat membantu dalam menyediakan pupuk bagi tanaman dan menurunkan penggunaan pupuk kimia yang harganya semakin mahal dan persediaan langka. Pupuk organik cair (POC) merupakan pupuk organik yang berbentuk cair dan dibuat dari bahan organik yang salah satunya adalah kotoran ternak.   POC mudah dibuat, biaya murah, mudah diaplikasikan pada tanaman, dan bernilai ekonomis tinggi. Saat ini banyak dijual pupuk organik cair dengan berbagai merk, baik secara online maupun offline (toko sarana pertanian), dengan harga mulai dari Rp 25.000,-/liter sampai dengan  Ratusan ribu rupiah/liter POC. Oleh karena itu, limbah kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri rumah tangga untuk membuat POC guna meningkatkan penghasilan rumah tangga peternak.

Kegiatan pengabdian telah dilakukan pada kelompok PKK di Desa Taba Padang, Kabupaten Kepahiang untuk memperkenalkan produk POC komersial dan pemanfaatannya, memberikan pengetahuan tentang pembuatan pupuk organik cair berbasis kotoran kambing, pemanenan, aplikasi, dan pemasaran POC. Sasaran yang ingin dicapai adalah masyarakat termotivasi untuk melakukan kegiatan usaha pembuatan POC sebagai komoditas bisnis berbasis pada limbah kotoran ternak, khususnya kotoran ternak kambing dan limbah kotoran ternak yang lain pada umumnya. Pembuatan POC cukup mudah dan peralatan cukup murah dan mudah diperoleh.

Pembuatan POC dari kotoran kambing dan domba adalah sebagai berikut : (1) Siapkan drum ukuran 100-125 liter, (2) Kotoran kambing/domba dimasukkan ke dalam drum sampai ketinggian 2/3 dari tinggi drum, (3) Ditambahkan ragi tape 2 sampai 5 butir yang sudah dihaluskan, (4) Tambahkan bioaktivator (EM4 20 ml), (5) Tambahkan air sampai drum penuh, (6) drum ditutup rapat, (7) dilakukan pengadukan setiap hari sampai rata, (8) setelah 7 hari POC dapat digunakan untuk memupuk, (9) cocok untuk tanaman hortikultura, (10) pemanfaatan dengan cara mengencerkan POC (15 cc POC + 1 liter air), (11) dosis 1 gelas untuk setiap tanaman.

Pembuatan POC dari bahan campuran kotoran ternak dan limbah organik. Bahan-bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut : (1) kotoran ternak, (2) daun-daunan (bukan dari tanaman bergetah), (3) gula pasir, (4) terasi, (5) bioaktivator (bakteri), (6) air, (7) ember/drum beserta tutupnya. Cara pembuatannya adalah sebagai berikut : (1) 30 kotoran  dan 5 kg daun-daunan dimasukkan dalam ember/drum, (2) 1 kg gula dan 0,5 kg terasi dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan kedalam ember/drum, (3) 1 liter bioaktivator (bakteri)  dicairkan dan dimasukkan dalam ember/drum, (4) ember/drum ditutup rapat, (5) 8 sampai 10 hari tutup ember/drum dibuka, (6) saring dan masukkan cairan POC ke dalam botol/jirigen, (7) POC siap digunakan. Ampas sisa yang ada pada ember/drum kemudian dilakukan hal-hal berikut untuk menghasilkan POC ke dua : (1) sisakan 2 liter POC,  (2) tambahkan larutan (1kg  gula pasir/tetes dan 0,5 kg terasi), (3) tambahkan air secukupnya, (4) tutup ember/drum, (5) 8 sampai 10 hari tutup dibuka (6) cairan masukkan dalam botol/jirigen, (7) POC sudah dapat digunakan.

Pupuk organik cair (POC) yang dihasilkan dalam jumlah besar dapat dikemas dalam botol bekas minuman kapasitas 1,5 liter atau dalam jirigen bekas kapasitas 4 liter dan 5 liter yang yang dapat ditemukan ditemukan di pengumpul barang-barang bekas dengan harga yang murah. POC yang sudah dikemas bisa langsung dijual langsung ke masyarakat. Dalam sekala besar dapat dipasarkan secara online, atau dititip ke toko sarana pertanian dan koperasi.

Dalam pengabdian ini belum dihasilkan nilai berbentuk uang, tetapi peningkatan pengetahuan pada peserta tentang pupuk organik cair (POC), dan diharapkan tidak hanya sebatas peserta yang memperoleh ilmu pengetahuan tentang POC, tetapi masyarakat sekitar juga memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan limbah ternak dan limbah organik lainnya untuk pupuk organik cair melalui transfer pengetahuan oleh peserta kegiatan pengabdian ke masyarakat di sekitarnya. Disamping itu, setelah mengetahui bahwa POC memberikan nilai ekonomis yang tinggi maka ada motivasi peserta untuk melaksanakan kegiatan usaha dengan menggunakan berbagai bahan organik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *